Minggu, 02 Mei 2010

Masa Depan Koran Indonesia

Koran
Picture By Google : Koran

Seiring dengan majunya Media Visual (Televisi, Bioskop, Internet, dll) tentunya hal ini akan menjadi ancaman bagi media cetak, khususnya di Indonesia? Mengapa di Indonesia? Karena seperti yang kita ketahui bawa minat Baca Masyarakat Indonesia masih jauh dari kata memuaskan jika dibndingkan dengan negara tetangga kita seperti Malaysia atau Singapura. Bahkan kemampuan membaca pelajar kita dari SD hingga SMA mungkin masih sangat rendah. Membaca belum menjadi Budaya kita, terutama para remaja di Indonesia. Sudah mengakarnya Budaya Visual terutama televisi dengan aneka program hiburannya mulai dari infotainment, sinetron, acara tangga lagu, pencarian bakat, dll yang sangat digemari oleh seluruh elemen masyarakat mulai anak-anak sampai kakek-nenek. Yah, masyarakat benar-benar terhibur dibalik kehidupan mereka yang semakin sulit. Jika hanya hiburan terus yang disajikan tanpa diimbangi dengan program yang menunjang pengetahuan dan informasi yang kritis, tentunya pembodohan masyarakat melalui acara-acara yang disuguhkan stasiun televisi akan terus berlanjut.

Penulis sangat kurang setuju dengan apa yang disuguhkan pertelevisian indonesia yang lebih banyak eksploitasi daripada eksplorasi. Jadi semuanya hanya profit oriented, dimana kuantitas dan profit menjadi komoditi utama stasiun televisi swasta di Indonesia. Tidak ada lagi acara yang berkualitas. Mungkin hanya TV ONE dan METRO TV yang program acaranya tidak terlalu menghibur dan hanya 10% program hiburan (mengacu pada sebuah tulisan yang menyatakan hanya 10% program  informasi pada televisi), hal ini cukup mengesankan tapi toh terkadang pemberitaan yang mereka angkat juga masih sangat dekat dengan unsur kepentingan dimana kita juga mengetahui bahwa ada beberapa tokoh politik yang juga mempunyai peranan penting dalam stasiun televisi di atas.

Bagaimana dengan Internet? Banyak yang mengatakan bahwa internet dengan segala kelebihan dan kemudahannya menjadi ancaman serius bagi Media Cetak. Bahkan media cetak sendiri menggunakan jasa internet untuk memberitakan beritanya dan juga sebagai ajang promosi gratis. Hal ini sudah menjadi rahasia umum. Saya tidak menentang pendapat ini. Dan sudah banyak yang bercerita dan lain sebagainya tentang ancaman internet bagi media cetak.

Yang menjadi pertanyaan lagi adalah, mengapa MEDIA VISUAL bisa menjadi ancaman serius bagi media cetak di Indonesia? Hal inilah yang harus kita gali lebih dalam lagi. Bukan hanya pada objeknya (media visual) yang harus kita perhatikan, melainkan pada subjeknya (masyarakat) yang selalu dengan mudah menerima arus yang masuk tanpa memilah dan berpikir lebih kritis lagi. Semua diterima dengan mentah dan diolah begitu saja.
Masyarakat Indonesia selalu ingin menerima hal yang mudah dicerna yang tidak perlu susah dipikir karena masyarakat Indonesia sudah letih dengan segala macam beban hidup dan beban pikiranya dalam kehidupan sehari-hari, hingga pelampiasanya dilakukan dengan mencari hiburan dan salah satu Hiburan yang paling mudah diakses adalah hiburan melalui media visual sepeti nonton televisi, nonton bioskop, browsing internet, dll.

Hal ini tentunya menjadi ancaman serius bagi kita semua terutama media cetak, dimana seperti yang kita ketahui bersama bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata memuaskan, lagi-lagi dalam bidang ini kita harus mengakui keunggulan Malaysia yang dulunya pernah belajar pada kita.

Media baik visual maupun cetak harus bisa membimbing bahkan mengarahkan masyrakat kita ke aeah kemajuan, dimana objektivitas dan suguhan yang ditampilkan benar-benar bersifat objektif dan memberikan pengetahuan dan membangun pola berpikir masyrakat yang maju dan kritis.

Bisa dikatakan tingkat pendidikan mencerminkan tingkat SDM kita, hal ini menjadi ancaman serius bagi dimana kita dengan mudah dibodohi dan dijadikan kacung oleh pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan di indonesia. Akhirnya kita hanya menjadi tenaga murah dan tidak punya harga diri di rumah kita sendiri.

Mungkin salah satu penyelamatan media cetak adalah menumbuhkan minat baca masyarakat kita. But How?
Kembali lagi ke pokok permasalahan, memang media visual menjadi momok bagi media cetak jika media cetak itu masih bersifat pragmatis dan hanya menyuguhkan sesuatu yang “itu-itu” saja. Apa yang harus dilakukan media cetak untuk membendung dominasi media visual sedangkan kultur masyrakat sendiri lebih mengarah kepada budaya visual??? Ini lah yang menjadi pertanyaan paling penting bagi kita semua. Azrul Ananda yang juga menjabat wakil direktur Jawa Pos dan Anak dari mantan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, pernah menyatakan pada hari pers nasional di semarang beberapa tahun lalu dan beliau juga sering menulis bahwa koran harus mencari pembaca muda? Bagaimana caranya menggaet mereka? Menyuguhkan apa yang mereka inginkan. Mengapa pembaca Muda? Jika sejak muda mereka mau membaca koran, maka mereka akan menjadi aset koran untuk 10-15 tahun kedepan. Kurang lebih beliau menyatakan hal demikian dalam beberapa tulisanya di Jawa Pos.

Jawa Pos sendiri mempunyai rubrik untuk anak muda yang dinamakan Deteksi, rubrik ini terus berkembang dan berwujud nyata hingga adanya acara anak muda yang terbesear di Indonesia seperti DetCon (semacam acara mading) dan Event Basket Pelajar terbesar di Indonesia yakni Deteksi Basketball League namun sekarang berubah menjadi Development Basketball League (DBL) mengingat sekarang DBL sudah mempunyai perusahaan sendiri namun masih didukung penuh oleh Jawa Pos. Yah mungkin salah satu cara yang digunakan oleh Azrul juga menjadi salah satu jawaban untuk menahan gempuran media visual. Jawapos sendiri seperti kita ketahui telah menjadi koran terbesar di Indonesia, dimana mereka juga mempunyai anak-anak perusahaan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dimana anak-anak itu juga mempunyai peranan penting dalam pemberitaan di wilayahnya masing-masing. Jadi mereka bukanlah koran nasional, karena tiap wilayah mempunyai nama sendiri. Seperti di Jawa Timur namanya Jawa Pos, namun di Jakarta Indo Pos.

Inilah yang membedakan Jawa Pos dengan Kompas. Namun Kompas juga salah satu koran besar di negeri ini, dimana tulisannya yang kritis dan berbobot seakan menjadi ciri khas dari kompas hingga koran ini sangat diminati oleh intelektual, mahasiswa, aktivis, pebisnis, politikus, dan lain sebagainya. Bagi wilayah yang gemar membaca tentunya koran kompas ini sangat digemari.

Ancaman media visual dan masyarakat terhadap media cetak, tentunya masih belum bisa kita rasakan sekarang dimana masih belum ada penurunan oplah pada koran. Namun, apakah kedepannya Indonesia hanya dikuasai oleh koran itu-itu saja? Bagaimana juga dengan nasib koran yang lain yang masih kecil atau “setengah matang”?

Mungkin dua koran dia atas, Jawa Pos dengan Fleksibilitasnya dan Kompas dengan Idealisme nya benar-benar bisa menentang dan bersinkronasi dengan arus yang masuk dan makin mengakarnya budaya visual yang telah menjadi “Tuhan” masyarakat Indonesia khususnya kaum menengah kebawah.

Sudah tentunya meski besar dan hebat. Toh, mereka (Jawa Pos dan Kompas) juga dihuni oleh manusia biasa yang juga punya banyak kekurangan. Jadi masih banyak kelemahan dan kekurangan diantara Koran Besar ini. Dan hal ini tentunya juga menjadi ancaman dari dalam juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar